PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PENDEKATAN REALISTIK MATERI PECAHAN PADA KELAS IV SD
Siska Giyan Kurniasari
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Purworejo
PENDAHULUAN
Matematika merupakan mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi agar siswa mampu berfikir logis, kritis, sistematis, dan kreatif. Kemampuan tersebut dibutuhkan agar siswa dapat memanfaatkannya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Data menurut PISA (Programme for International Student Assesment) menyatakan bahwa Indonesia belum beranjak dari papan bawah. Nilai untuk Matematika dari hasil tes di 2018 menunjukkan angka 379, nilai ini mengalami penurunan dibanding tes di tahun 2015. Jika dibandingkan dengan rata-rata Internasional, Indonesia masih memiliki jarak yang cukup jauh. Rata-rata Internasional berada pada angka 489. Penurunan kualitas ini tentu indikasi bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Saat ini pembelajaran abad ke- 21 mengharuskan seorang guru menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning). Oleh karena itu, seorang guru harus mampu mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran.
Guru memerlukan keterampilan dasar mengajar berupa adanya variasi mengajar, kemampuan merancang, serta dapat mengimplementasikan berbagai srategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan taraf perkembangan siswa. Tantangan dari pelaksanaan variasi mengajar tersebut adalah anggapan bahwa matematika diakui sebagai pelajaran yang sulit dimengerti sehingga menimbulkan permasalahan yang menyebabkan minat belajar matematika menjadi rendah. Dari aspek pemanfaatan bahan ajar, pendidik dan peserta didik hanya menggunakan buku pegangan sebagai bahan ajar satu-satunya. Tidak tersedianya penunjang bahan ajar untuk peserta didik menyebabkan wawasan dan pengetahuan peserta didik tentang materi hanya sebatas pengetahuan yang terdapat di buku pegangan. Bahan ajar tersebut masih menekankan pada contoh soal yang mengacu kepada konsep pencarian hasil bukan ke aplikasi pada masalah sehari-hari. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka peneliti mengembangkan modul.
Menurut Prastowo (dalam jurnal Khoeriyah, 2019) modul merupakan sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka. Untuk itu diperlukan suatu modul yang berorientasi pada kehidupan nyata. Orientasi dalam modul dapat diterapkan dengan menggunakan pendekatan realistik. Menurut Rosyada (2019) pendekatan realistik berawal dari pengalaman sehari-hari sehingga siswa dapat menyelesaikan pemecahan masalah matematika secara konkret. Diperkuat dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Arrohmah (2019) yang berjudul Pengembangan Modul Matematika Berbasis Pendekatan PMRI Pada Materi Bentuk Pecahan Kelas IV Sekolah Dasar menyatakan bahwa penggunaan modul mempermudah siswa untuk memahami materi serta memecahkan masalah. Dalam meningkatkan kreatifitas pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika modul didampingi dengan pendekatan realistik. Namun kenyataan dalam lapangan masih tedapat beberapa permasalahan pembelajaran matematika khusunya pada materi pecahan. Dimana siswa masih menghafal konsep pecahan dan tidak bisa menerapkan konsep untuk masalah yang ditemui siswa pada lingkungan sehari- hari. Sering dijumpai siswa masih kebingungan dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perubahan bentuk pecahan kedalam nilai desimal, pecahan campuran maupun persen.
Tujuan yang ingin didapat adalah menghasilkan bahan ajar berupa modul berbasis realistik untuk kelas IV SD serta dapat mengetahui efek potensial dari penggunaan modul terhadap hasil belajar siswa. Pengembangan Modul dengan pendekatan realistik untuk peserta didik kelas IV merupakan solusi yang ditawarkan. Penulis menilai bahwa pengembangan Modul Matematika dipandang perlu, mengingat pendidik dan peserta didik hanya menggunakan buku pegangan peserta didik sebagai bahan ajar satu-satunya. Selain itu dengan menggunakan pendekatan realistik siswa dapat memahami konsep khususnya materi pecahan dengan membawa siswa ke dunia nyata dari pengalaman sehari-hari sehingga materi yang dipelajari bisa menambah kemampuan siswa didalam memecahkan permasalahan matematika.
KAJIAN PUSTAKA
Pendekatan Realistik
Pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika agar konsep yang disajikan dapat dipahami oleh siswa. Seorang guru dapat memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk membelajarkan siswanya. Hal ini tergantung pada kemampuan guru dan siswa serta materi yang akan diajarkan. Masing - masing pendekatan mempunyai kekhasan dan karakteristrik tersendiri. Salah satu pendekatan pembelajaran matematika adalah pendekatan realistik. Menurut Sari (2018) pendekatan realistik merupakan suatu pendekatan proses pembelajaran matematika yang bermula dari dunia nyata untuk mengembangkan konsep-konsep, ide-ide matematika serta menyatukan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip utama pembelajarannya adalah siswa harus berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar serta diberi kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri. Pengetahuan yang dibangun pada Realistic Mathematic Education sangat memperhatikan aspek - aspek informal dalam mencari jembatan untuk mengantar pemahaman siswa kepada matematika formal Kurino (2017).
Pembelajaran matematika tidak hanya menggunakan situasi nyata dan pengalaman siswa sebagai titik tolak belajar, tetapi juga menekankan pada situasi nyata yang dapat dibayangkan oleh siswa. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan realistik merupakan proses pembelajaran matematika yang penting, dianggap melekat dan bermakna apabila proses yang terjadi selama pembelajaran siswa dapat mengkonstruksi ide-ide yang dimilikinya dalam matematika. Menurut Streefland, (Shoimin, 2017: 148-149) penggunaan pendekatan realistik harus menekankan pada 3 prinsip yaitu (1) siswa menggunakan pengetahuan mereka sendiri dalam memecahkan masalah, (2) menemukan pengetahuan dengan menghubungan pengalaman siswa ataupun pemanfaatan benda-benda konkret, dan (3) setelah melakukan aktivitas dihasilkanlah penemuan yang dapat mengkontruksi pemahaman siswa.
Modul Pembelajaran
Menurut Prastowo (dalam jurnal Ryananda, 2017) mengatakan bahwa modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa, sesuai usia dan tingkat pengetahuan mereka agar mereka dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari pendidik. Sedangkan menurut Muliani (2019) modul merupakan bahan belajar terprogram yang disusun sedemikian rupa dan disajikan secara terpadu,sistematis, serta terperinci. Dengan mempelajari materi mudul, peserta didik diarahkan pada pencarian suatu tujuan melalui langkah-langkah belajar tertentu, karena modul merupakan paket program untuk keperluan belajar. Berdasarkan uraian di atas, modul merupakan satu unit bahan ajar yang dirancang sesuai kebutuhan siswa dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan modul akan lebih efektif, efisien dan relevan dibandingkan dengan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah yang cenderung bersifat klasikal dan dilaksanakan dengan tatap muka.
Hal tersebut diperkuat oleh Daryanto (2013: 9-11), bahwa modul pembelajaran digunakan sesuai kebutuhan dan motivasi belajar siswa apabila memiliki karakteristik, yakni (1) self intruction (belajar mandiri), (2) self contained (serba lengkap), (3) stand alone (berdiri sendiri), adaptif, dan (4) user friendly (bersahabat). Modul dalam pembelajaran juga memiliki unsur-unsur yang perlu diperhatikan guna menciptakan modul pembelajaran yang baik. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Setiyaningsih, (2019) bahwa unsur- unsur modul yang harus dipenuhi antara lain:1) Judul, 2) Petunjuk belajar (petunjuk peserta didik atau pendidik, 3) Kompetensi yang akan dicapai, 4) Informasi pendukung, 5) Latihan-latihan, 6) Petunjuk kerja atau Lembar kerja, 7) Evaluasi.
Penerapan Pendekatan Realistik terhadap Materi Pecahan
Bilangan pecahan adalah bilangan yang berbentuk, dengan a dan b bilangan bulat serta b tidak sama dengan 0. Pada bilangan pecahan a disebut pembilang dan b disebut penyebut. Pada bentuk pecahan a dan b bilangan bulat, a disebut pembilang dan b disebut penyebut.
Tabel. 1 Implementasi RME Terhadap Materi Pecahan
Menurut Zulkardi (2016) penerapan pendekatan RME pada materi pecahan dapat diilustrasikan menggunakan tabel sebagai berikut:
|
No. |
Aktivitas Siswa |
Aktivitas Guru |
Karakteristik Matematika Realistik |
|
1. |
Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru
|
Menggali prasyarat melalui pertanyaan tentang konsep pecahan. |
Menggunakan masalah Kontekstual (dunia nyata) |
|
2. |
Memberikan masalah kontekstual yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang akan diajarkan |
siswa mendengarkan dan memperhatikan secara seksama penjelasan guru
|
Menggunakan model-model matematisasi |
|
3. |
Mengarahkan siswa untuk berdiskusi dalam kelompok |
Siswa berdiskusi untuk memecahkan masalah
|
Proses pengajaran yang interaktif antara guru dan siswa |
|
4. |
Membagikan alat peraga pada tiap-tiap kelompok |
Siswa menerima alat peraga dan membuat yang diperintahkan oleh guru |
Menggunakan produksi dan kontruksi |
|
5. |
Menjelaskan kepada siswa bahwa materi yang dipelajari berhubungan dengan materi selanjutnya |
Siswa mendengar yang dijelaskan oleh guru |
Menggunakan keterkaitan dengan topik yang lainnya |
Media pembelajaran yang dibuat adalah modul, merupakan pengembangan media yang dapat menunjang pembelajaran siswa dan materinya juga dikaitkan dengan matematika realistik atau kehidupan nyata siswa. Supaya siswa dapat mudah dalam pembelajaran di sekola serta untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pemecahan masalah maka pendekatan Pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME) memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang riil. Matematika yang bersifat abstrak dapat dibuat menjadi nyata dalam ranah kognitif siswa.Pengembangan modulnya bertumpu pada 3 prinsip yang terdapat pada RME. Namun kenyataan di lapangan, hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah. Pembelajaran selama ini yang terjadi di kelas belum memberikan kesempatan pada siswa untuk berkreasi dan berkontribusi dalam penyelesaian masalah. Pendekatan realistik dikembangkan pada materi pecahan mata pelajaran matematika kelas IV dalam bentuk produk berupa modul yang dapat membantu pembelajaran menjadi lebih bermakna.
METODOLOGI
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Untuk memudahkan proses penelitian maka disusunlah sebuah alur penelitian yang memuat tahapan penelitian. Model pengembangan ADDIE terdiri atas 5 tahap utama Mulyatiningsih (dalam jurnal Pratomo, 2019) yaitu: a) Analysis (analisis), b) Design (perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation (implementasi), dan e) Evaluation (evaluasi). Namun, pada tahap implementation dan evaluation tidak dilakukan dikarenakan keterbatasan dari peneliti sehingga hanya sampai pada tahap development dan divalidasi oleh ahli.
Tahap Analysis (analisis)
Tahap analisis bertujuan untuk menganalisis perlunya pengembangan bahan ajar. Tahap ini meliputi dua langkah pokok, yang pertama analisis kebutuhan dengan melakukan wawancara pada guru matematika dan observasi di dalam kelas. Langkah kedua yaitu analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang perlu diajarkan.
Tahap Design (perancangan)
Tahap desain/perancangan digunakan untuk menyiapkan desain awal bahan ajar atau desain produk. Desain dilakukan oleh peneliti untuk memudahkan dalam proses penyusunan bahan ajar. Tahap ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan kerangka modul yang akan dikembangkan.
Tahap Development (pengembangan)
Tahap pengembangan bertujuan untuk mengembangkan modul matematika berbasis realistik pada materi pecahan. Langkah selanjutnya adalah memvalidasi modul yang dilakukan oleh ahli atau dosen pembimbing.
Melalui pengembangan modul matematika diharapkan siswa mampu memahami apa itu pendekatan matematika realistik dengan baik, tidak membosankan dan menyenangkan.
PEMBAHASAN
Tahap analisis memiliki dua langkah pokok. Pada pengumpulan analisis kebutuhan dengan wawancara, didapat bahwa ketersediaan sumber belajar dan sarana bahan ajar yang dapat memacu siswa untuk berpikir kreatif masih kurang. Selain itu dilakukan observasi untuk mengetahui bagaimana cara guru mengajar di dalam kelas, apakah dalam proses pembelajaran yang dilakukan sudah menggunakan pembelajaran berbasis realistik. Hasil dari analisis ini akan dijadikan sebagai pedoman untuk menyusun dan mengembangkan modul.
Langkah kedua yaitu analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang perlu diajarkan, memilih materi yang sekiranya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahaminya, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, serta menyusunnya kembali secara sistematis.
Tahap desain/perancangan digunakan untuk menyiapkan desain awal media pembelajaran atau desain produk. Hasil analisis digunakan sebagai acuan dalam penyusunan kerangka modul yang akan dikembangkan. Perancangan modul dilakukan berdasarkan hal-hal yang diperoleh dari tahap analisis. Kerja yang dilakukan pada tahap perancangan penyusunan modul meliputi: menentukan judul modul, menentukan desain modul, dan penulisan modul. Tahap pengembangan bertujuan untuk mengembangkan modul matematika berbasis realistik pada materi pecahan. Langkah-langkah pengembangan yaitu pengembangan modul, modul yang dikembangkan berbentuk media cetak yang terdiri dari cover dan isi modul. Cover terdiri dari judul, nama penulis, pendekatan pembelajaran berbasis realistik, identitas modul, dan gambar pendukung. Isi modul terdiri atas prakata, daftar isi, kompetensi inti, topik kegiatan belajar, peta kompetensi, latihan dan tugas, ringkasan materi, dan evaluasi sumatif. Selanjutnya adalah memvalidasi modul yang telah disusun. Validasi dilakukan oleh ahli materi yaitu dosen pembimbing.
Dari penelitian ini dihasilkan sebuah media pembelajaran matematika berupa modul dengan pendekatan realistik materi pecahan dengan desain sebagai berikut:
Gambar 1. Tampilan Desain Modul SD
Penilaian aspek oleh ahli media pembelajaran ditinjau dari aspek: 1) Umum, 2) Penyajian pembelajaran, 3) Kelayakan Bahasa, 4) Kelayakan Kegrafikan, 5) Kelayakan Isi. Dari hasil penilaian yang dilakukan oleh validator ahli dinyatakan valid, sehingga modul matematika sudah memiliki kriteria baik dan layak untuk digunakan sebagai penunjang pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul matematika dengan pendekatan realistik mendorong siswa untuk lebih aktif, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah kemampuan memecahkan suatu masalah sehari-hari dan saling membantu dalam menguasai materi. Minat belajar siswapun menjadi lebih tinggi, pembelajarannya mampu membantu siswa untuk berpikir kreatif, menghasilkan bermacam ide gagasan untuk memecahkan suatu permasalahan yang dekat dengan kehidupan nyata mereka. Selain itu penggunaan pendekatan realistik juga berdasarkan analisis kebutuhan siswa akan materi dan cara pembelajaran yang sesuai dengan dasar pemahaman mereka.
Adapun masih terdapat beberapa kelemahan dari pengembangan modul yang dilakukan oleh peneliti. Kelemahan tersebut diantaranya siswa cenderung masih awam untuk menghubungkan kegiatan sehari-harinya ke dalam masalah matematika, sehingga ketika terdapat perubahan dalam konsep matematis siswa kurang cepat dalam menerima. Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi kebenaran dari hasil penelitian yang diperoleh, sehingga dapat dipergunakan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa menjadi lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arrohmah tahun 2019 menjelaskan bahwa pengembangan modul berbasis pendekatan realistik baik sekali dan valid digunakan untuk tingkat Sekolah Dasar.
Tabel 1. Analisis hasil lembar validasi modul pada tahap tinjauan ahli
|
No |
Komponen Penilaian |
Nilai validitas (%) |
Kriteria |
|
1. |
Aspek umum |
85 % |
Sangat baik |
|
2. |
Penyajian pembelajaran |
77,5 % |
Baik |
|
. |
Kelayakan bahasa |
80 % |
Baik |
|
4. |
Kelayakan kegrafikan |
80 % |
Baik |
|
5. |
Kelayakan isi |
80% |
Baik |
|
Rata-rata |
80, 34 % |
Baik sekali |
|
KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai pengembangan modul matematika dengan pendekatan realistik pada materi pecahan, dapat diketahui bahwa penggunaan pendekatan realistik pada materi tersebut dapat membantu siswa dalam memahami konsep bilangan pecahan. Siswa disuguhkan dengan pembahasan materi yang dekat dengan kehidupan nyata mereka, seperti menyisipkan ilustrasi-ilustrasi benda konkret agar siswa lebih memahami konsep materi yang sedang dipelajari. Isi modul dominan pada gambar dan soal-soal yang real dikarenakan modul yang digunakan berbasis realistik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa modul matematika berbasis pendekatan realistik pada materi pecahan pada kelas IV SD dikatakan sudah baik dan layak untuk digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Aris Shoimin, (2014), 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, h. 150-151
Arrohmah, W.S. (2019). Pengembangan Modul Matematika Siswa Berbasis Pendekatan PMRI Pada Materi Bentuk Pecahan Kelas IV Sekolah Dasar (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Palembang).
Daryanto. (2013). Menyusun Modul Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Yogyakarta: Gava Media.
Dwi Kurino, Y. (2017). Penerapan Realistic Mathematics Education dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V pada materi Volume Bangun Ruang di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas 3 (2).
Mazro’atul Khoeriyah, N.I.M. (2019). Pengembangan Modul Matematika Siswa Berbasis Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Pada Materi Faktor Dan Kelipatan Suatu Bilangan Di Kelas IV Sekolah Dasar (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Palembang).
Muliani, R. (2019). Pengembangan Modul Materi Pelajaran Matematika Materi Pecahan Peserta Didik Kelas IV SD/MI (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
Rosyada, T.A., Sari, Y., & Cahyaningtyas, A.P. (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 6 (2), 116-23.
Ryananda, S. (2017). Pengembangan Modul Matematika Realistik Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Berbasis Masalah Pada Siswa SMP (Doctoral dissertation, Pendidikan Matematika-FKIP).
Sari, A., & Yuniarti, S. (2018). Penerapan Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 2 (2), 71-80.
Zulkardi, PengembanganMateri Kesebangunan dengan Pendekatan PMRI di SMPN 5 Talang Ubi, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1 No. 2,(Palembang: Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, 2007), diakses pada tangga l 8 September 2016, h. 48
Komentar
Posting Komentar